Syair adalah bentuk khazanah puisi lama yang akrab di Alam Kesusasteraan Melayu, namun sekarang seperti nasib rekannya sesama jenis puisi lama yakni pantun dan gurindam, syair semakin hilang popularitasnya dan semakin sedikit generasi muda yang tertarik untuk melestarikan seni budaya dan tradisi ini.
Ketika berbicara tentang syair, maka definisi syair berasal dari bahasa Arab syu’ur yang berarti perasaan. So…dari kata syu’ur, muncul kata syi’ru yang berarti puisi dalam pengertian umum yang mempunyai bahasa yang indah dan menarik. Namun, syair di Alam Melayu dengan segala variasinya, dalam perkembangannya mengalami perubahan dan modifikasi sehingga menjadi sesuatu bentuk karya sastra yang khas Melayu, meskipun tidak sepenuhnya menghilangkan pengaruh Arab. Selain pengaruh Arab dan Islam, pengaruh Parsi juga sangat kuat terutama dalam perbendaharaan kata-kata, sehingga dalam kosakata yang sering muncul dalam syair Melayu itupun banyak terdapat kata-kata, kalimat dan istilah dalam bahasa Arab dan Parsi.
Syair juga merupakan media yang digunakan untuk menyebarkan agama dan ajaran agama Islam di Alam Melayu, syair biasanya juga mengungkapkan rasa hati, petuah, nasihat, cinta, filosofi hidup, sejarah, kisah legenda, kiasan, juga sindiran dan sebagainya.
Untuk contoh syair yang terkategori lama dan memuat ajaran Islam-Suluk-Tasawwuf, dapat diambil perumpamaan atau contoh Syair Perahu karya Ulama Sufi Hamzah Fansuri. Malah, Syed Naquib al-Attas berpendapat bahwa syair bernafas Melayu yang menyimpang dari bentuk syair Arab, memang semula dicipta oleh Hamzah Fansuri itu.
Contoh syair tentang kisah sejarah adalah seperti Syair Perang Mengkasar dan Syair Perang Banjarmasin, contoh syair tentang hikayat Raja-raja dan Kerajaan adalah seperti Syair Siak Sri Indrapura Dar As-Salam Al-Qiyam, kalau legenda ada Syair Siti Zubaidah dan masih banyak lagi contoh syair.
Bentuk syair terdiri dari empat baris serangkap dengan rima yang paling populer adalah a-a-a-a. Tiap baris syair terdiri dari delapan hingga dua belas suku kata. Tiap empat baris membentuk satu bait syair, dan merupakan satu kesatuan arti.
Bait syair yang terdiri dari empat baris agak mirip dengan pantun. Letak perbedaannya adalah, empat baris pantun merupakan dua baris sampiran dan dua baris isi yang berdiri sendiri, sementara bait syair tiada sampiran dan semuanya isi atau substansi.
*****
Khusus di daerah Ketapang-Kayong seni budaya dan tradisi mengarang dan bersyair ini juga sudah mulai terpinggirkan. Padahal syair merupakan salah satu seni sastra kekayaan negeri yang dahulunya marak di rantau ini. Di Ketapang-Kayong semenjak zaman Matan Tanjungpura, Simpang-Matan dan Kayong-Matan dikenal sebagai daerah yang membudayakan syair sebagai seni tradisinya.
Perkembangan syair tradisional di negeri ini dinamakan dengan istilah “Kenkarangan Syair,” dan syairnya dikenal dengan “Syair Gulong.” Tradisi bersyair biasa ditampilkan apabila ada kenduri adat, pernikahan, dan hiburan seni dan sebagainya.
Jika menilik sejarah, memang sangat sulit untuk mengetahui sejak kapan tradisi syair berkembang di daerah ini, yang pasti…orang-orang selalu menyebut bahwa syair sudah ada semenjak zaman Kerajaan Tanjungpura berjaya.
Dalam diskusi saya dengan salah seorang pengarang syair dan pelantun syair yang masih ada di kampong saya bernama Wak Aba Rahmat, beliau bercerita bahwa syair ada di Matan Tanjungpura berkisar pada zaman Panembahan Giri Kusuma atau setelahnya yakni Sultan Muhammad Syaifuddin. Karena seperti dikemukakan oleh Wak Aba Rahmat, bahwa pada masa Sultan Muhammad Syaifuddin memerintah Tanjungpura, datanglah rombongan Sultan Tengah atau Raja Tengah. Raja Tengah ini adalah anak dari Sultan Brunei yang merantau hingga sampai terdampar di Negeri Matan Tanjungpura.
Menilik tentang cerita Sultan Tengah atau Raja Tengah, maka didapati cerita, bahwa setelah Raja Tengah dirajakan di Serawak, beliau juga pernah merantau-mengunjungi Johor. Nah, dalam perjalanan pulangnya ini rombongan Raja Tengah dihantam angin ribut dan gelombang besar sehingga terdampar di Negeri Matan-Tanjungpura tersebut.
Karena mengetahui asal usul, perilaku dan adatnya yang baik, akhirnya Raja Tengah bertemu jodoh di Negeri Matan Tanjungpura ini, beliau dinikahkan oleh Raja Tanjungpura dengan adiknya yakni Ratu Mas Surya.
Nah, menurut pemaparan Wak Aba Rahmat ini…salah satu permintaan dari Raja Matan Tanjungpura kepada Raja Tengah sebelum menikahi adiknya adalah, sudilah agar Raja Tengah mau menceritakan dan menuliskan cerita perantauannya. Nah, dituliskanlah cerita perantauan Raja Tengah itu ke dalam suatu syair, yang kemudian dilantunkan pada pesta pernikahan mereka. Sehingga kemudian, sejak masa itu tradisi bersyair berkembang dan pada tiap pesta pernikahan biasanya selalu ada yang membacakan syair berisi nasihat dan petuah atau cerita tentang pertemuan dua insan yang menikah itu.
Di negeri Matan Tanjungpura, termasuk di dalamnya Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara saat ini, dalam melantunkan syair dikenal beberapa lagu, Wak Aba Rahmatpun kurang begitu faham namanya, yang di-istilahkannye hanyalah lagu Brunei, Matan-Kayong dan Simpang.
Yang dimaksudnya dengan melantunkan syair dengan lagu Brunei adalah…jika ada pernah mendengar Cik Iyeth Bustami menyanyikan lagu Hang Tuah, maka pada prolog awalnya ada lantunan syair :
Tersebut sudah dalam hikayat,
Laksmana Hang Tuah, setia amanat,
Menjunjung harkat juga martabat,
Takkan Melayu buang zuriat.
…..
Atau, bagi anda yang di Kota Pontianak dan sekitarnya, pernah mendengar acara orang bersyair di Radio Kenari, maka macam itulah lantunan lagu bersyair ala Brunei yang dimaksud oleh Wak Aba Rahmat.
Sebenarnya saya masih sangsi dengan istilah lagu Brunei tersebut. Karena jika mendengar kesamaan lagu antara yang ada dalam lagu Hang Tuah tersebut dengan cara melantunkan syair ala Brunei yang dimaksud, mungkin yang dimaksud adalah bersyair dengan lagu Selendang Delima, yang juga berkembang di Kepulauan Riau, mungkin juga berkembang di rantau semenanjung terutama Johor. Ini saya asumsikan bahwa cerita Raja Tengah yang pernah berkunjung ke Johor dan tentunya dalam perjalanan pasti menyinggahi banyak tempat di rantau itu, termasuk di Kepulauan Riau yang masa itu hanyalah satu kerajaan antara Riau dan Johor. Sehingga boleh jadi cara Raja Tengah bersyair adalah dengan cara yang didapatinya dalam perjalanan ke Johor. Namun karena beliau adalah putera Raja Brunei, maka dikenali bersyair dengan lantunan ala Brunei tersebut. Cara melantunkan syair seperti ini masih dapat ditemui di Ketapang-Kayong, Kota Pontianak dan sekitar, juga Kabupaten Pontianak dan Kubu Raya.
Adapun melantunkan syair dengan lagu Matan-Kayong dan Simpang, memiliki perbedaan dengan lantunan syair lagu Brunei tersebut. Susah untuk dituliskan disini, agaknye mirip-mirip orang membaca Barzanji, tapi beda-beda sikitlah.
Namun, yang pasti antara melantunkan syair ala Matan-Kayong dan Simpang hampir mirip, perbedaannya kalau melantunkan syair ala Matan-Kayong agak lebih panjang lantunan nadanya daripada melantunkan syair ala Simpang. Menurut Wak Aba, melantunkan syair ala Simpang jauh lebih pendek karena untuk mengurangi waktu, sebab syair itu biasanya panjang, jadi kalau dilantunkan dengan nada yang panjang juga maka akan memakan waktu banyak.
Kalau menurut Dr. Chairil Effendi/Rektor Universitas Tanjungpura Pontianak di dalam kata pengantar Buku Syair Bunge Jambu, bahwa lagu bersyair yang ada di pesisir Ketapang dikenali sebagai lagu Selendang Delima dan Nazam Arab.
Alhamdulillah, kalau membaca syair dengan ketiga lagu, gaya atau cara melantunkan itu saya boleh pahami sikit. Karena semenjak kecil sudah sering mendengar orang melantunkan syair, masa sekolah di Madrasah Aliyah Ketapang pun salah satu guru saya yakni Bapak Mahmud Mursalin sangat pandai bersyair, sekarang sering pula mendengar orang mendendangkan syair di Radio Kenari…radio lagu senandong, dangdut dan syair…xixixixixixixixixi.
*****
Semua yang saya tulis tentang cerita tentang syair ini masih perlu kajian dan penelitian lebih mendalam. Yang jelas adalah bahwa syair tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, akan tetapi juga sarat akan pengajaran dan pewarisan nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat. Oleh karena itu selayaknya syair, termasuk juga pantun dan gurindam mendapat kembali tempat di khazanah sastra pada masa ini. Bersyair, berpantun dan membuat gurindam tidak akan membuat kita seperti orang ketinggalan zaman, malah jika adat tradisi seperti itu ditinggalkan maka sepanjang hidup akan malu sendiri!
Sumber :
Lagu Hang Tuah, Iyeth Bustami.
ms.wikipedia.org/wiki/syair.
http://mediasauna.multiply.com/journal/item/5/Pantun dan Syair dalam Kesusastraan Melayu Klasik.
Raja Tengah @ http://bert972.blogspot.com.
Syair Bunge Jambu, Syazsya Kayong.
Syair Siak Sri Indrapura Dar As-Salam Al-Qiyam, oleh SPN. Drs. Ahmad Darmawi, M.Ag.
Wak Aba Rahmat, Pengarang dan Pelantun Syair.
Rabu, 28 April 2010
KISAH TRADISI SYAIR DI KAMPONGKU
Diposkan oleh
Roodee Cute
di
14:16
0
komentar
Link ke posting ini
Tengku Akil Siak, Raja Sukadana Baru/Nieuw Broesseol
Tengku Akil dari Siak adalah nama yang tak asing di kampoengku di Kab. Kayong Utara, Kalbar, terutama bagi masyarakat Sukadana, terlebih lagi kalangan Bangsawan Sukadana yang bergelar Tengku.
Tengku Akil Siak adalah Anak Raja Siak yang dibawa Belanda untuk mengisi kekosongan pemerintahan Sukadana yang telah ditinggalkan mundur oleh Pemerintahan Raja Sukadana-Tanjungpura, karena terdesak oleh sebab akibat seringnya peperangan seperti perang dengan Landak berebut pusaka Intan Kobi, diserang Mataram yang pernah menawan Panembahan Rau Air Mala, diserang Inggris, diserang Pontianak untuk melumpuhkan pelabuhannya, sering dirompak Lanun dan kemudian Belanda.
Penerus Kerajaan Sukadana-Tanjungpura ini berpindah ke Sungai Matan (sekarang Kecamatan Simpang Hilir-KKU). Namun, ekspansi Belanda ke wilayah Kerajaan Matan terus berlanjut, pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Jamaluddin tahun 1822 datang rombongan komisi Belanda yang dipimpin oleh C. Muller, untuk menduduki Sukadana dan menuntut hak atas Pulau Karimata. Di dalam rombongan inilah ikut serta Tengku Akil. Pada akhirnya Matan Tanjungpurapun terpecah menjadi Kerajaan Simpang-Matan (yang terakhir di Teluk Melano-Kayong Utara) dan Kayong-Matan (yang terakhir di Muliakerta-Ketapang).
*****
Yang masih perlu ditelusuri Tengku Akil, dalam catatan orang Sukadana dikatakan sebagai cucu Raja/Sultan Yahya, sengaja dibawa Belanda yang bermaksud menggantikan Sultan Muhammad Jamaluddin di Sukadana. Tengku Akil akhirnya dapat menduduki dan memerintah Sukadana bergelar Raja Tengku Akil Dipertuansyah (1827). Sukadana Baru inipun lebih dikenal dengan nama Nieuw Broesseol oleh orang Belanda.
Jika menelisik nama Sultan Yahya, maka dalam urutan Sultan Siak, Sultan Yahya adalah Sultan ke-enam yang memerintah tahun 1782-1784. Sedangkan dalam Syair Siak Sri Indrapura Dar As-Salam Al-Qiyam tertulis nama Tengku Akil sebagai anak ketiga dari Sultan Siak ke-empat yakni Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (1776-1780). Tertulis pula Tengku Akil adalah adik daripada Tengku Muhammad Ali tertua Putra Mahkota Siak Sri Indrapura yang kemudian setelah dinobatkan menjadi Raja bergelar Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah (1780-1782) atau Sultan Siak kelima.
Setelah masa Sultan Yahya, yang memerintah Siak adalah Dinasti Sayyid atau Ba'alawi, keturunan dari Sayyid Syarif Utsman yang menikah dengan Embun Badariah, Puteri dari Sultan Siak ke-empat yakni Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, atau kakaknya dari Tengku Akil.
*****
Dalam catatan orang Belitong, Tengku Akil awal mulanya bekerja untuk Inggris, kemudian bekerja untuk Belanda. Tahun 1813, Inggris oleh Sir Thomas Stamford Raffles memerintahkan Jendral Giullespie menguasai Palembang, terus Mayor W. Robinson meduduki Bangka kemudian mengutus Tengku Akil dari Siak guna menguasai Belitung. Tengku Akil mendapat perlawanan, dalam pertempuran itu Depati KA Hatam tewas dengan kepala terpotong atau terkerat.
Anak KA Hatam yang masih berusia muda, KA Rahad dan beberapa saudaranya yang lain berhasil diselamatkan sepupunya KA Luso. KA luso dan orang-orang berhasil mengusir Tengku Akil hingga Tengku Akil lari ke bersembunyi di Pulau Lepar dan kemudian tahun 1820 Tengku Akil menjadi kaki tangan Belanda di Bangka tapi mendapat perlawanan pula oleh Demang Singa Yuda dan Juragan Selan hingga perahu dan pasukannya ditenggelamkan.
Sedangkan dalam catatan sejarah kaum kerabat Kerajaan Kubu keturunan Alawiyyin ber-fam Alaydrus dan orang-orang Kubu pada umumnya, nama Tengku Akil juga dikenal karena pernah terjadinya konflik akibat suatu ekspedisi yang dipimpin Tengku Akil dari Siak, atas perintah dari Belanda. Akibat konflik ini, Yang Dipertuan Besar Kubu Syarif Idrus bin Abdurrahman Alaydrus menemui ajalnya pada tahun 1794 M, terbunuh ketika sedang shalat Subuh. Konflik dengan rombongan Siak dibawah pimpinan Tengku Akil inilah konon yang membuat sumpah Raja Kubu yang menyatakan mengharamkan anak keturunannya menikah dengan orang-orang Siak.
*****
Boleh jadi Tengku Akil yang berkelana menyerang Belitong, Bangka, Negeri Kubu dan menjadi Raja di Negeri Sukadana adalah Tengku Akil yang sama, jika menilik tahun-tahun terjadinya penyerangan Belitong, Bangka dan pendudukan Sukadana.
Dan, yang memang perlu dikaji lagi, siapakah orang tua dari Tengku Akil yang selalu disebut Tengku Akil Siak ini?! Apakah Tengku Akil itu cucu Sultan Yahya atau anaknya Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah.
Yang pasti, di Sukadana terdapat banyak peninggalan dari trah Tengku Akil yang pernah memerintah Sukadana. Di Pulau Karimata, terdapat pula makam Tengku Abdul Jalil, yang juga kerabat turunan dari Tengku Akil Siak ini.
Jadi, pengembaraan Tengku Akil ini memang bikin heboh negeri serantau...dari Sumatera dia tak boleh bertahta, maka digeruninya Belitong, Bangka, Kubu hingga Sukadana. Memanglah...terlepas dari pro dan kontra cerita Tengku Akil ini, sedianya ada pelajaran dari perjalanan sejarah serantau yang mesti dikaji dan menarik buat diceritakan. Hehehehehehehe...
Sumber :
JU. Lontaan, 1975, Sejarah, Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalbar.
Syair Siak Sri Indrapura Dar As-Salam Al-Qiyam, oleh SPN. Drs. Ahmad Darmawi, M.Ag.
Sejarah Belitung http://www.begalor.com/new/article.php?id_art=40
Pulau Maya Karimata, oleh Rudy Handoko.
Sejarah Kampongku, oleh Rudy Handoko.
Istana Panembahan Matan-Tanjungpura di Mulia Kerta, oleh Rudy Handoko.
Diposkan oleh
Roodee Cute
di
14:12
0
komentar
Link ke posting ini
Kempunan dan Pusak
Kempunan...suatu kata atau istilah yang populer di rantau Kalimantan Barat nie! Hampir di tiap pelosok daerah Kalimantan Barat, termasuk di Kampong saye kenal ngan istilah nie! Dak taulah kalau di luar Kalimantan Barat, ade dak yee istilah ini!?! Tapi sepertinye ade juga...!
Kempunan takde arti yang pas untuk mendeskripsikannye! Karene, bagi setiap yang kenal ngan istilah ini pasti punye persepsi dan pengertian masing-masing. Lagipula, belum pernah diselidiki tentang makne istilah ini.
Yang pasti, kempunan nie merupekan salah satu pantangan juga. Kempunan tuu dapat diberi makne sebagai suatu kesialan, malapetake, bahaye atau apelah yang rawan-rawan bahaye, yang dipercayai akan menimpa atau akan terjadi peristiwa merbahaye itu, jike ade kasus orang menolak rezeki berupe makanan atau minuman yang diberikan kepadenye walaupun cume sikit.
Sederhanenye, jike ade orang ngasi rezeki berupe makanan atau minuman, menjadi pantang bagi orang yang diberi itu menolak rezeki tuuu. Kalau die menolak, bakal kempunan...yakni bakal tertimpa musibah, mendapat bahaye, malapetake dan sebagainye.
Apelagi jike orang sedang makan-minum, trusss kite nie hendak pergi...make kalaupun kite tak nak makan-minum, paling tidak menjamahnye walau sejumput atau hanye nyenggolkan tangan. Nah, menjamah makanan dan minuman tuu biasenye disebut dengan "Pusak" atau "Pusak-Palet" yang artinye dijamah makanan-minuman tuuu dan dipalitkan ke mulut atau dahi atau tangan. Hal ini juga menjadi alasan dilarang berjalan keluar rumah kalau orang di rumah lagi sedang makan-minum, takut kempunan!
Dengan ber-pusak inilah make akan menawar kempunan. Namun jike tidak ber-pusak, make akan kena kempunan. Apelagi kalau bahaye yang ditakutkan benar-benar terjadi, make kempunan tuu makbul!
Kempunan ngan pusak menjadi dua istilah yang saling berkait, kempunan juga menjadi kepercayaan yang termasuk ditakuti untuk dilanggar. Di Ketapang misalnye, pusak dikenal dengan istilah jamah makanan-minuman. Kalau di Pontianak, kempunan disebut pula' dengan kemponan. Kalau tak salah saye, masyarakat di Pedalamanpun kenal gak dengan kempunan atau kamponan nie!
Biasenye, kalau di kampong saye, dahulu kempunan yang paling ditakuti adelah kempunan dipantok/digigit ular. Kempunan yang paling ringan adelah seperti tejatoh mase berjalan, berlari atau bermaen. Namun sekarang kempunan yang paling bahaye juga adelah kempunan kena tabrak sepeda motor (motor cycle), kena tabrak mobil (autocar), apelagi kalau sampai ditabrak kapal tanker dan sebagainye. Xixixixixixixixixi...
Tapi, sekarang nie, kempunan juga mengalami pergeseran makne dan pergeseran sifat! Kalau dulu kempunan cume terkait ngan makanan dan minuman, sekarang dengan tebiat budak-budak zaman baru nie dipelesetkannye jadi macam-macam hal, seperti kempunan kalau ketemu Nak Dare yang lawar tapi tak sempat menyentuh, atau kempunan waktu bejalan tak nengok kiri-kanan tibe-tibe ditabrak gadis cantik! Heeeiiii...jadi macam-macamlah kempunan tuuu! Tapi kempunan yang sejati tetap perihal kempunan yang terkait ngan makanan dan minuman, selaen itu kempunan ngade-ngade!
Diposkan oleh
Roodee Cute
di
14:07
0
komentar
Link ke posting ini
Sabtu, 14 November 2009
Pantun Beradat
Jerat bekatik siburung elang,
Kemumu kejunjung di dalam taman.
Adat nak baik adat terbilang,
Tetamu berkunjung hidangkan jamuan.
Belok perahu di jeram berliku,
Berkayuh sampan ke darat tanjung.
Elok terlihat langgam perilaku,
Bercahaya wajah adat dijunjung.
Berat ditimbang si-asam jawa,
Daun salam janganlah diremah,
Adat orang baik adat dibawa,
Ucapkan salam jika masuk rumah.
Bunga harum selasih pandan,
Keduduk menjalar selasih sepekan.
Adat kaum nan serasi sepadan,
Duduk sama bersila sirih dimakan.
Nuri mengelus turun ke sungai,
Burung merpati terbang melanglang.
Jari nan halus kuku berinai,
Rupa nan manis gilang gemilang.
Diposkan oleh
Roodee Cute
di
16:09
0
komentar
Link ke posting ini




